Begini Kronologis Tewasnya TKI "Nurhidayati" Yang di Bunuh Warga Bangladesh di Singapore - BURUH TODAY

Post Top Ad

Your Ad Spot

Jumat, 04 Januari 2019

Begini Kronologis Tewasnya TKI "Nurhidayati" Yang di Bunuh Warga Bangladesh di Singapore

Dok Istimewah/net,
BURUHTODAY.COM - Nurhidayati binti Wartono Surata (34) warga desa kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat menjadi korban pembunuhan warga Bangladesh bernama Ahmed Salim (30) di Kamar hotel Dragon di Geylang, Singapore, Minggu (30/12/2018).
Begini kronologis kejadiannya :
1. Menolak dijadikan wanita simpanan
Nurhidayati Wartono Surata (34) diduga dibunuh pria asal Bangladesh, Ahmed Salim (30), di kamar 81, Hotel Golden Dragon, di kawasan Geylang, Singapura, Minggu (30/1/2018) sore.
Di lehernya terdapat bekas cekikan.
Awalnya, Ahmed Salim dan Nurhidayati Wartono Surata mengambil kamar hotel untuk tiga jam.
2. Menambah waktu di kamar hotel
Setelah 3 jam lamanya di kamar hotel, mereka menambah sewa lima jam lagi.
Setelah 10 jam tidak juga check out, petugas hotel memeriksa kamar nomor 81, dan melihat Nurhidayati Wartono Surata sudah meninggal.
Penjelasan Warsem (53), ibunda korban, saat ditemui di rumah duka, Rabu (2/1/2019) malam, menjelaskan kematian putrinya.
3. Pesan kamar hotel untuk bayar hutang
Menurut Warsem, Nurhidayati Wartono Surata menemui Ahmed Salim di kamar hotel untuk membayar utang, tidak untuk menginap.
Hal itu disampaikan Nurhidayati Wartono Surata kepada ibunya, Warsem lewat telepon pada Minggu pagi sebelum kejadian.
"Jadi ceritanya, anak saya utang Rp 10 juta sama Salim. Sudah dibayar Rp 5 juta. Waktu ke hotel itu, anak saya janjian ketemuan di sana untuk melunasi sisa utangnya yang masih Rp 5 juta lagi," papar Warsem.
4. Minta hubungan berakhir
Setelah melunasi utangnya, Nurhidayati Wartono Surata mau menegaskan berakhirnya hubungan mereka.
Ahmed Salim diminta tak lagi menemui Nurhidayati Wartono Surata.
"Rencananya memang tanggal 15 Januari ini Nurhidayati pulang karena kontrak kerjanya berakhir," ujar Warsem.
5. PRT di Singapura sejak 2012
Nurhidayati Wartono Surata bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Singapura sejak 2012.
Sudah tiga kali dia ganti majikan. Kata Warsem, semuanya baik-baik saja.
Korban adalah anak ketiga dari lima bersaudara.
"Nama Wartono Surata di belakang nama anak saya itu, nama bapak angkatnya. Bukan nama bapak kandung atau bapak sambung (tiri)."
"Dia anak yang periang, centil, dan cerewet. Menyenangkan. Kawan curhatnya ya cuma sama saya. Apalagi setelah dia bercerai. Dia sempat bilang enggak mau buru-buru nikah lagi. Mau membesarkan anak dulu sampai lulus kuliah."
"Minggu pagi saya masih telepon-teleponan sama anak saya. Tapi jam 19.00, saya telepon dia lagi, enggak diangkat. Saya telepon lagi, enggak diangkat," ujar Warsem.
Ia khawatir, terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anaknya.
6. Ditelepon KBRI Singapura
Apa yang Warsem khawatirkan pada putrinya benar terjadi.
Senin (31/1/2018) pukul 15.00, suaminya bernama Muradi (57), ayah tiri Nurhidayati, ditelepon KBRI di Singapura yang mengabarkan putrinya meninggal karena diduga dibunuh.
Jenazahnya sudah dibawa ke rumah sakit.
Saat mendengar putrinya dibunuh, Warsem langsung menduga, pelakunya pasti Ahmed Salim, kekasih Nurhidayati Wartono Surata.
"Anak saya sudah sering curhat kalau Salim mau membunuh anak saya," ungkap Warsem.
7. Tidak mau jadi wanita simpanan
Nurhidayati Wartono Surata sering diancam hendak dibunuh Ahmed Salim karena Nurhidayati tidak mau dijadikan sebagai perempuan simpanan Ahmed Salim.
"Salim bilang, dia sudah dijodohkan orangtuanya dan akan menikah dengan perempuan Bangladesh. Tapi Salim tak mau melepas anak saya sebagai pacarnya," tutur Warsem.
Nurhidayati Wartono Surata menolak keinginan Ahmed Salim tetap menjadi pacarnya.
Sebab, ia merasa hanya akan dijadikan perempuan simpanan Ahmed Salim.
8. Tidak mau lapor polisi dan menolak pindah dari Singapura
Sejak itu Nurhidayati Wartono Surata sudah berulangkali memutuskan hubungan asmara dengan Ahmed Salim, tetapi Ahmed Salim terus ngotot menolak.
"Sampai pernah Nurhidayati mau dilempar dari lantai empat apartemen majikannya oleh Salim," ucap Warsem.
Tak mau lapor polisi Mendengar pengaduan putrinya, Warsem meminta Nurhidayati Wartono Surata melapor ke polisi, tetapi ia menolak.
"Dia enggak mau berurusan dengan polisi, takut dipecat majikannya. Soalnya dia sayang sama majikannya. Gajinya pun bagus," jelas Warsem.
Saat Warsem mengusulkan menghilang dari Ahmed Salim dan pindah kerja saja di Hongkong, Nurhidayati Wartono Surata pun menolak.
"Katanya, di Hongkong majikan pada kepo (ingin tahu urusan orang), pasang CCTV di mana-mana. Kalau di Singapura, majikan enggak pada kepo, enggak banyak masang CCTV. Yang penting pekerjaan beres," tutur Warsem.
9. Tulang punggung keluarga
Muradi dan Warsem mengakui, Nurhidayati Wartono Surata menjadi tulang punggung ekonomi keluarga mereka.
"Yang paling banyak membantu keuangan keluarga di antara anak-anak kami, ya dia," kata Warsem.
Nurhidayati Wartono Surata sempat menikah dengan seorang pria selama tujuh tahun, lalu cerai.
Dari pernikahan ini, dia dikaruniai anak, Wisnu Prayogi (11), kelas lima SD.
Dari hasil bekerja di Singapura, Nurhidayati Wartono Surata mampu membeli rumah dan tanah yang lokasinya tak jauh dari rumah orangtuanya.
"Baru selesai direnovasi Desember lalu. Habis sekitar Rp 100 juta," ujar Muradi yang diserahi tanggung jawab merenovasi rumah Nurhidayati Wartono Surata.
Menurut Muradi, Nurhidayati Wartono Surata masih punya cita-cita membangun lagi rumah kecil untuk dirinya.
"Jadi rencananya, rumah yang baru selesai dibangun ini untuk anaknya. Terus mau bangun lagi rumah lebih kecil untuk masa tuanya," tutur Muradi.
10. Jenazah ditunggu keluarga
Sampai larut malam, sejumlah warga Desa Kenanga yang dikenal sebagai "kampung pekerja migran" ini, masih berkumpul, datang dan pergi, di rumah duka.
Sebagian memilih menunggu kedatangan jenazah Nurhidayati Wartono Surata.
Sementara itu, rumah Nurhidayati yang baru selesai direnovasi Desember lalu, masih senyap.
Impian membangun rumah kecil berikutnya bagi masa tua Nurhidayati Wartono Surata, pupus.
11. Konfirmasi KBRI Singapura
Mengutip LiputanBMI yang dikonfirmasi ke bagian Staf Penerangan, Sosial dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, Melati Sosrowidjojo, membenarkan telah terjadi kasus pembunuhan terhadap Nurhidayati.
"Iya benar ada kasus pembunuhan yang menimpa PMI di Singapura, almarhumah bernama Nurhidayati binti Wartono Surata merupakan WNI asal Indramayu," ucap Melati, pada Rabu (2/1/2019).
Katanya, jenazah almarhumah Nurhidayati rencananya akan dipulangkan ke Indonesia pada Kamis (3/1/2019). 
"Rencananya Kamis (3/1/2019) jenazah almarhumah akan dipulangkan ke Indonesia," pungkasnya.
Berikut keterangan pers KBRI Singapura terkait kasus pembunuhan Nurhidayati:
1. Pada tanggal 31 Desember 2018, KBRI Singapura telah menerima informasi dari Kepolisian Singapura terkait WNI meninggal a.n. Nurhidayati Bt Wartono Surata, asal Indramayu, Jawa Barat.
2. Berdasarkan data KBRI, yang bersangkutan tercatat bekerja sebagai PMI dan dari laporan polisi, ybs meninggal dunia akibat dibunuh di sebuah hotel di Geylang, Singapura pada 30 Desember 2018. Polisi juga telah menangkap seorang laki-laki asal Bangladesh yang diduga terlibat dalam pembunuhan tersebut.
3. KBRI telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian terkait kasus tersebut yg saat ini dibawah penanganan Special Investigation Section/Criminal Investigation Department. KBRI juga telah menghubungi agensi, majikan, dan PPTKIS terkait hak-hak dan pemulangan ybs. Staff KBRI juga telah ke Rumah Sakit untuk melihat jenazah.
4. KBRI akan memastikan hak-hak keuangan ybs terpenuhi dan staff KBRI akan mendampingi pemulangan jenazah ke Indramayu pada tanggal 3 Januari 2019.
5. KBRI akan memastikan berjalannya proses hukum yg dilakukan oleh Kepolisian Singapura dengan terus memantau dan mengawal perkembangannya.
6. Polisi berhasil membekuk terduga pelaku 14 jam setelah jenazah Nurhidayati ditemukan. Bila terbukti bersalah Sali akan dikenai hukuman mati.
Artikel ini sebagian diolah dari TribunnewsBogor.com dan Kompas.com dengan judul "Menolak Jadi Simpanan, Pekerja Indonesia Dibunuh di Singapura"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot