Home » » Pengusaha Di Ibu Kota Jakarta Mengalami Kerugian Besar Akibat Demo Buruh

Pengusaha Di Ibu Kota Jakarta Mengalami Kerugian Besar Akibat Demo Buruh

Di Edit oleh admint dan BERITA BURUH | Minggu, 10 November 2013

Jakarta,Buruhtoday - Aksi demonstrasi buruh yang menuntut kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2014 menjadi Rp 3,7 juta dan mogok kerja beberapa hari terkhir membuat pengusaha merugi hingga puluhan miliar rupiah.

Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Utara, Rishi Wahab, mengatakan, unjuk rasa buruh yang berlangsung beberapa hari ini mengakibatkan waktu pengantaran berubah dan akan meningkatkan biaya produksi.

“Kawasan Berikat Nusantara saja ada 92 perusahaan, dan semua perusahaan itu merugi hingga Rp 40 miliar dalam sehari karena demo buruh. Kita harap kondisi bisa kondusif kembali,” ujarnya, Jumat (8/11).

Karena itu, dia meminta rekan-rekan buruh tidak menggelar unjuk rasa terus -menerus. “Kita tahu UMP sudah diketok, mari kita menjaga agar harga produk tidak naik tinggi. Kalau harga tinggi, konsumen akan kabur. UMP sudah naik, kita harus melakukan efisiensi, namun dampak demo ini terus terjadi,” kata Rishi, yang juga calon Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DKI periode 2014-2018 ini.

Ditambahkan Rishi, jika buruh tidak menerima terhadap keputusan tersebut bisa melangkah ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) untuk mengadu argumentasi di hadapan hakim. “Negara kita negara hukum, kalau sudah diputuskan lebih baik maju ke PTUN, jangan demo terus menerus,” tuturnya.

Rishi menilai, penetapan UMP DKI 2014 sebesar Rp 2,4 juta lebih dari cukup karena realita kehidupan ternyata seorang buruh bergaya hidup lebih tinggi dari apa yang diperoleh.

Kondisi ini terlihat dari sebagian besar buruh memiliki sepeda motor lebih dari satu, mengikuti perkembangan gadget serta perabotan rumah tangga yang bukan mencerminkan pekerja lajang. "Kita minta pemerintah tidak lepas tangan dan menyerahkan konflik kepada buruh dan pengusaha," ungkapnya.

Menurut Rishi, tingginya biaya hidup di Jakarta disebabkan harga transportasi massal masih mahal. “Jakarta belum nyaman dihuni. Sebagian besar orang tidak merasa aman naik angkutan umum, sehingga buruh memaksa unsur transportasi ditinggikan dalam perhitungan biaya hidup. Mereka terpaksa mencicil sepeda motor, atau naik ojek, ini tanggung jawab pemerintah menyediakan angkutan murah,” tandasnya.

(Sumber B.J.com)
Share this post :

Facebook Comments