Cerita Perusahaan di DKI Ramai-ramai Hengkang Sebabkan Gelombang PHK - BURUH TODAY

Breaking

BURUH TODAY

www.buruhtoday.com


Post Top Ad

Jumat, 26 Mei 2023

Cerita Perusahaan di DKI Ramai-ramai Hengkang Sebabkan Gelombang PHK


BURUHTODAY.COM - Pabrik-pabrik di pusat-pusat bisnis Jakarta satu per satu mulai hengkang, seperti yang terpantau di Kawasan Berikat Nusantara (KBN). Kondisi ini ternyata sudah berlangsung dalam satu dekade terakhir.


Kawasan industri yang tadinya dipenuhi pabrik tekstil pun kini mulai sepi. Pantauan CNBC Indonesia di lokasi pada Kamis (25/5/23) siang atau di jam istirahat, tidak banyak karyawan pabrik yang terlihat di sekitar area kantin.


Kondisi ini berbeda jauh dengan beberapa tahun silam di mana kala jam istirahat atau pulang kerja, ramai-ramai pekerja terlihat keluar area pabrik. Salah satu pihak yang terpengaruh dengan makin sedikitnya pabrik tekstil yang beroperasi adalah kalangan pedagang.


"Dulu jualan apa aja habis, mau air, gorengan, mie, lontong pasti habis. Sekarang mah jauh lah. Dulu sehari omset jutaan, sekarang ya ratusan ribu juga Alhamdulillah, jualannya juga kan cuma kopi Rp 3-5 ribu," kata Martin, seorang penjual makanan di sekitar pabrik kepada CNBC Indonesia, Kamis (25/3/2023).


Gelombang perpindahan pabrik ternyata sudah lama terjadi, bahkan sejak 10 tahun silam.


Kala itu polemik kenaikan upah di DKI Jakarta sudah mulai terjadi. Akibatnya pelaku usaha mulai tidak kuat dan memilih untuk mencari lokasi baru di luar Jakarta.


Kondisi itu pun berdampak pada penurunan omzet pedagang di sekitar pabrik.


"2012 masih ramai tapi sudah mulai berkurang, di dalam juga ada yang jualan tapi biasanya kalau mau merokok carinya yang di luar," ujarnya.


Hengkangnya pabrik-pabrik juga memicu kekhawatiran bagi para pekerja. Banyak yang harus terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat keputusan manajemen tersebut.


Namun, pegawai tidak bisa berbuat banyak, pasalnya ada yang memang dibawa ke pabrik di lokasi baru, namun lebih banyak yang berhenti kerja.


"Sebagian karyawan pindah, tapi nggak semua, lebih banyak yang nggak ikut. Kontrak gedung juga sudah habis, nggak boleh diperpanjang lagi kontraknya sama pemerintah kan jadi pada pinda," sebut salah seorang karyawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar