Inflasi Indek Harga Konsumen, Kepri Lebih Tinggi dari Nasional di Januari 2018 - BURUH TODAY


Post Top Ad

Your Ad Spot

Selasa, 06 Februari 2018

Inflasi Indek Harga Konsumen, Kepri Lebih Tinggi dari Nasional di Januari 2018

BATAM - Inflasi indeks harga konsumen (IHK) Kepulauan Riau pada Januari 2018 mencapai 0,88 persen (month to month/mtm). Nilai ini meningkat dibanding inflasi bulan sebelumnya, sebesar 0,73 persen (mtm).

Secara tahunan inflasi IHK Kepri tercatat 4,19 persen (year on year/yoy). Capaian ini juga lebih tinggi dari bulan sebelumnya 4,02 persen (yoy). Dan lebih tinggi dibanding rata-rata historis tiga tahun terakhir yakni 0,31 persen (mtm).

"Angka inflasi Januari ini juga lebih tinggi dibanding capaian nasional, 0,62 persen (mtm) atau 3,25 persen (yoy)," kata Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Senin (5/2).

Menurutnya inflasi Januari didorong oleh inflasi volatile food, terutama akibat kenaikan harga beras. Sedangkan dari kelompok inti, inflasi disumbangkan oleh kenaikan upah tukang bukan mandor.

"Sementara kelompok administrered price mencatatkan deflasi karena penurunan tarif angkutan umum," ujarnya.

Pada kelompok volatile food, inflasi tercatat 3,92 persen (mtm). Lebih tinggi dibanding inflasi bulan sebelumnya, 2,31 persen (mtm). Kenaikan harga terutama dicatatkan komoditas beras dan bayam. Peningkatan harga beras disebabkan oleh kenaikan harga dari daerah pemasok, Cipinang. Sedangkan kenaikan harga bayam diperkirakan sebagai dampak dari tingginya curah hujan pada Januari dan memicu gagal panen.

Sementara kelompok inti mencatat inflasi 0,41 persen (mtm). Juga lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, 0,16 persen (mtm). Andil terbesar inflasi bersumber dari kenaikan upah tukang bukan mandor dan emas perhiasan. Kenaikan upah tukang bukan mandor merupakan dampak dari penyesuaian tarif yang dilakukan di awal tahun. Kenaikan harga emas perhiasan diperkirakan sebagai dampak dari kenaikan harga emas dunia.

Deflasi kelompok administered [rice tercatat 0,61 persen (mtm). Sedangkan bulan sebelumnya kelompok administered price ini mencatatkan inflasi 0,79 persen (mtm). Deflasi terutama disumbang oleh penurunan tarif angkutan udara pasca berakhirnya musim libur Natal dan Tahun Baru.

"Inflasi Februari diperkirakan tetap terkendali dan cenderung melemah. Tapi perlu diwaspadai beberapa risiko inflasi ke depan. Seperti angin musim utara yang masih berlangsung, gelombang tinggi diperkirakan masih mengganggu pasokan lokal, kemudian peningkatan cukai rokok, potensi peninjauan ulang atau pencabutan harga eceran tertinggi, serta peningkatan permintaan jelang hari raya imlek dan cap go meh," papar Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepri ini.

(sumber MCB/red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot