Home » » Dua Pilot Asing Merpati Curhat Tidak Di Gaji Dan Di Tolak Di Garuda

Dua Pilot Asing Merpati Curhat Tidak Di Gaji Dan Di Tolak Di Garuda

Di Edit oleh admint dan BERITA BURUH | Selasa, 18 Maret 2014

Buruhtoday -Maskapai pelat merah PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) memiliki pilot asing. Penerbang asing tersebut masih tetap bertahan meski belum memperoleh gaji hampir 4 bulan, atau sejak Desember 2013 lalu.

Salah satu penerbang tersebut adalah Jannes Oldenbeuving. Pria berkebangsaan Belanda ini mengisahkan masa kerjanya di Merpati.

"Saya mulai bekerja di Merpati 16 Maret 2012. Saya sudah 2 tahun di sini. Saya dari Belanda," kata Jannes kepada detikFinance usai menemui anggota DPR di Lantai 7 Nusantara I, Gedung DPR Senayan, Senin (17/3/2014).

Jannes mengaku, Merpati adalah tempat kerja pertamanya setelah dia lulus sekolah penerbangan. Selama berkarir di Merpati, ia bertugas membawa pesawat MA60 yang bermesin turboprop.

"Merpati merupakan perusahaan yang bagus. Saya suka di sini karena suasana keluargaannya," sebutnya.

Jannes mengaku sejak November 2013 belum digaji. Hingga kini ia masih tercatat sebagai pilot kontrak Merpati. Selama tidak digaji, Jannes menggunakan sisa tabungan yang diperoleh untuk menyambung hidup di Indonesia.

"Saya memiliki tabungan selama bekerja 2 tahun. Sekarang saya keluarkan duit dari tabungan," jelasnya, Ia pun berharap maskapai ekor kuning ini kembali terbang. Jika kemungkinan terburuknya Merpati tidak bisa kembali terbang, dia berencana kembali ke tanah kelahirannya dan mengais rezeki di kampung halaman.

"Saya terpaksa kembali ke Belanda. Mungkin mencari pekerjaan di sana. Tapi ekonomi di Eropa lagi krisis. Persoalan di sana juga para pilot senior nggak mau pensiun. Di sana banyak pilot," sebutnya.

Jannes mengaku sempat melamar menjadi pilot Garuda Indonesia saat beberapa waktu lalu, saat Merpati tidak memberikan kejelasan nasibnya. Sayangnya, Jannes tidak bisa bekerja di Garuda Indonesia karena terkendala aturan yang ada.

"Itu nggak mungkin karena saya sudah sampaikan ke Garuda. Regulator membuat peraturan. Pilot profesional dan ekspatriat harus punya jam terbang minimal 250 jam di jenis pesawat seperti Boeing dan CRJ. Tapi saya hanya terbangi MA60 dan Merpati merupakan maskapai satu-satunya yang menerbangi MA60 di Indonesia," kisahnya.

Sementara itu, rekan Jannes sesama pilot asing, Naoki Nozue telah bekerja sebagai pilot di Merpati selama 4 tahun. Selama berkarir, pria berkebangsaan Jepang ini bertugas membawa armada MA60.

"Kita semua masih tungguin dulu," kata pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Naoki mengaku bernasib sama dengan Jannes. Ia juga ditolak ketika mengajukan lamaran sebagai pilot di maskapai nasional lainnya. Pasalnya sebagai pilot asing, ia hanya mengantongi pengalaman terbang pesawat MA60. Sementara prasyarat melamar sebagai pilot asing, Naoki harus memiliki 250 jam terbang membawa pesawat di luar MA60 seperti pesawat jet tipe Boeing 737 yang banyak dipakai maskapai tanah air."Aneh saja. Sebagai pilot asing nggak bisa dapat kerja. Saya punya sertifikasi MA 60. Ada regulasi kalau mau pindah harus punya sertifikasi dan pengalaman 250 jam terbang (seperti Boeing 737). Itu aneh sekali," kata Naoki.

sumber DetikFinance.

Share this post :

Facebook Comments