PT HLS Berdalih ke BPJS Ketenagakerjaan Bahwa Ratusan ABK di Kapal Ikan Bukan Karyawannya - BURUH TODAY


Post Top Ad

Your Ad Spot

Rabu, 23 Agustus 2017

PT HLS Berdalih ke BPJS Ketenagakerjaan Bahwa Ratusan ABK di Kapal Ikan Bukan Karyawannya

BATAM - Selain disinyalir belum memiliki domumen pelaut, ratusan Anak Buah Kapal (ABK) yang bekerja di kapal ikan yang bersandar dipelabuhan milik PT HLS berlamat di Jembatan II Barelang, Batam, ternyata belum memiliki jaminan asuransi jiwa kecelakaan kerja dan kematian.

Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Sekupang Batam mengakui bahwa PT HLS sudah terdaftar sebagai kepesertaan BPJS Ketenagakerajaan. Akan tetapi PT HLS tidak mengakui bahwab ratusan ABK yang bekerja di kapal-kapal penangkap itu bukan karyawannya.

"Kalau jumlah karyawan PT HLS yang didaftarkan ke kita, ada 20 orang," ujar Kakacab BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sekupang, melalui salah satu stafnya bidang pemasaran, belum lama ini pada Buruhtoday.com

Astaga, PT HLS : Bos "Atak" Bukan Orang Sembarangan Untuk di Temui

Staf BPJS tersebut juga menjelaskan, bahwa pihaknya telah melakukan kunjungan dan menyurati perusahaan terkait ratusan ABK tersebut. Akan tetapi manajemen PT HLS yang ditemui mengaku bahwa ratusan ABK yang bekerja di kapal ikan tersebut bukan karyawan PT HLS, melainkan pihak kapal yang mempekerjakan.

"Pada bulan Juni 2017 lalu, kita sudah melakukan kunjungan dan bertemu langsung dengan Hrd perusahaan. Tapi kata Hrd-nya saat itu, ratusan ABK itu bukan karyawan PT HLS, dan hanya membayar hasil tangkapan ikan saja pada mereka." kata staf BPJS TK itu,

Meski demikian, katanya lagi. BPJS Ketenagakerjaan Sekupang belum menerima surat balasan dari PT HLS. "Surat kita belum ada balasannya. Dan kita akan membuat surat lagi ke perusahaan itu," pungkasnya. 

Hingga berita ini di unggah, manajemen PT HLS belum berhasil dikonfirmasi.

Diberitakan sebelumnya, salah satu mantan ABK berisial S, asal Sumatera Utara mengaku bahwa dirinya pernah bekerja sebagai ABK disalah satu kapal. Selama berlayar dirinya sangat takut akan gelombang laut, bahkan selama berlayar mereka hanya mendapat upah Rp 1 juta.

"Gaji kami berdasarkan hasil tangkapan Bang. Ya kalau hasilnya banyak, maka gaji lumayanlah," ungkap S, belum lama ini pada Buruhtoday.com.

S menceritakan keluh kesahnya salama berlayar menangkap ikan dilautan luas. Mereka bekerja seperti sapi perahan saat memuat ikan dari jaring kedalam kapal dan juga saat membongkar ikan sesudah sampainya didarat atau pelabuhan.

"Kalau kerjanya mati kalilah, makanya saya gak mau lagi ikut kapal itu bang. Sebab, kita kerja mati-matian yang enak malah Tekongnya," katanya.


red / tim AMJOI.
 

    

Post Top Ad

Your Ad Spot