Ternyata Kesejahteraan Buruh Tiongkok Lebih Para dari Buruh di Indonesia - BURUH TODAY


Post Top Ad

Your Ad Spot

Kamis, 08 Juni 2017

Ternyata Kesejahteraan Buruh Tiongkok Lebih Para dari Buruh di Indonesia

Buruhtoday.com - Kesejahteraan buruh Indonesia bila dibandingkan dengan para buruh di negara tetangga seperti Tiongkok sangat berbeda. Hampir sebagian besar buruh pabrik Tiongkok berada dalam mode produksi dan bekerja paling sedikit 12 jam/hari dengan upah yang sangat minim.

Terkadang, para buruh di Tiongkok harus bekerja lembur ketika pihak manajer departemen dan direktur perusahaan memintanya.

Hal itulah para buruh di Tiongkok ini memiliki sedikit waktu luang, jadi mereka tidak memiliki banyak waktu persiapan untuk melakukan pekerjaan lainnya.

Upah mereka sendiri rata-rata kurang dari $ 450 per bulan, dan pekerja yang merasa tidak puas tidak memiliki cara lain untuk memperbaiki sistem ritual ini.

Oleh karena itulah, kebanyakan dari mereka memilih untuk menetap dalam pekerjaan ini serta menanggung rasa sakit dan kesengsaraan tanpa adanya harapan perubahan kualitas hidup.

Salah seorang buruh pernah bercerita.

“Kami bekerja keras berjam-jam setiap hari serta lembur. Jika kami berpikir bahwa jam lembur terlalu lama, kami diminta untuk berbicara dengan manajer departemen dan memberi tahu masalah yang kami alami. Namun, hingga kini seluruh keluhan, ketidakpuasan, dan upah rendah tersebut tidak pernah ditanggapi ataupun tidak ada tindak lanjut yang nyata. Tidak ada harapan untuk suatu perubahan, dan semua pendapat kami tidak berguna. Kami merasa tidak berguna. “

Perusahaan Midea Global berada di Distrik Shunde di wilayah Tiongkok Selatan merupakan salah satu dari 500 perusahaan publik yang berlokasi di Tiongkok dan mengekspor produknya ke AS.

Midea Global bergerak di bidang produsen perlengkapan peralatan pemanas dan pemanas ruangan (HAVC) terbesar di dunia.

Menurut situs resmi perusahaan tersebut, pendapatan perusahaan di AS lebih dari US $ 22 miliar dolar setiap tahunnya.

Baru-baru ini muncul keluhan bahwa beberapa pekerja jatuh sakit karena kelelahan, akibat sistem pendinginan pabrik yang rusak dan jumlahnya tidak memadai. Padahal suhu di wilayah tersebut saat itu berada pada suhu 80 ºF hingga 90ºF.

Hal itu diperparah lagi dengan kondisi para pekerja yang bekerja selama 12 jam untuk menghasilkan produk seharga jutaan dolar, namun mereka hanya mendapat upah $ 17 per hari.

Paling tidak seharusnya ada seorang manajer di pabrik mengerti bahwa para buruh membutuhkan waktu untuk memulihkan kesehatannya dan menurunkan waktu lembur mereka.

Sang manajer juga harus memastikan bahwa lantai pabrik diperiksa setiap hari, dan mempertahankan tingkat keamanan dan efisiensi, serta kebersihan disana.

Jika kebijakan ini diterapkan, ada sedikit harapan bagi para buruh di pabrik ini. Namun hingga kini tampaknya masih sulit untuk mengubah kondisi dan kualitas hidup buruh, bahkan seluruh buruh yang ada di dunia.

red.
sumber : visiontimes.com / Erabaru.net

Post Top Ad

Your Ad Spot