Home » » PAD Batam Hampir Setiap Tahun Defisit, Pajak Industri dan Shipyard Dibuat Kemana Ya..?

PAD Batam Hampir Setiap Tahun Defisit, Pajak Industri dan Shipyard Dibuat Kemana Ya..?

Di Edit oleh admint dan BERITA BURUH | Kamis, 04 Februari 2016

Tim AMOK Group Menunjukkan Puluhan Kapal Tugboat siap jual disalah satu Shipyard Sagulung. (foto gordon).
Batam,Buruhtoday.com - Hampir setiap tahunnya pemerintahan di Batam selalu mengalami devisit Pemasukan Asli Daerah(PAD) dari berbagi sektor, entah apa siasat semata atau ada dugaan lainnya. Dua penguasa yakni pemko Batam dan BP Batam diduga mengasingkan sektor indutri dan shipyard dalam PAD di kota Batam ini.

Sudah tidak heran lagi ketika mendengar pulau Batam, kota Batam yang dikenal dengan kota industri dan shipyard, ternyata menyimpan potensi pajak sangat dahsyat. Salah satunya dari sektor shipyard atau galangan kapal.

Meski dua tahun belakangan ini industri semacam itu mulai meredup akibat tergerusnya pasar oleh negara tetangga semisal Vietnam. Namun, alangkah lucunya bila selama di masa keemasan industri galangan kapal tersebut, kota ini kerap mengaku-ngaku selalu devisit PAD.

Berkaca dari statistik yang ada, industri shipyard berkembang begitu pesat sejak tahun 2000 hingga 2013. Sejalan dengan itu, tentulah pendapatan dari pajak utamanya PPn 10% sektor tersebut sangat melimpah.

Namun sangat disayangkan, ternyata Batam setiap tahun selalu mengalami devisit Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bahkan instansi terkait dengan bangga merilis ke publik terkait merosotnya pendapatan.

Menanggapi itu, salah seorang praktisi industri shipyard yang telah malang melintang di beberapa negara mengatakan bahwa galangan kapal adalah bisnis sangat fantastis utamanya ketika produk kapal itu laku terjual.

“Dan pasti terjual, sebab sebelum pembuatan sudah dipesan oleh klien asal luar negeri. Pertanyaan saya, kemana pajak penjualan kapal selama ini?” ujar S kepada AMOK Group, Rabu (3/2/2016).

Ia mencontohkan shipyard Batamec, Nanindah dan lainnya. Kedua shipyard ini dahulunya sangat berjaya dengan pembuatan kapal. Produk yang dihasilkan sangat melimpah, bahkan tenaga kerja yang terserap pun puluhan ribu orang.

“Saya kasihan melihat pekerja sekarang, seharusnya para pekerja di Batam ini sudah bisa merasakan seperti negara luar. Mereka nganggur pun dibayar. Dari mana, ya dari pajak penjualan kapal itu,” ujarnya sambil memetik gitar akustik kesayangannya.

“Katakan aja kapal terkecil tugboat itu harganya sudah mencapai Rp2-5 milyar per unit. Kalau tanker, kargo, crane bus, dan modul, rig dan kapal sapi yang dibuat shipyard Nanindah dan Batamec itu bisa laku hingga Rp6 triliunan per unit,” lanjutnya sambil memandang prihatin para pengangguran di bilangan Batuaji.


Selama bertugas di Kazakstan dan Dubai, S menyebut bahwa pendapatan negara dari sektor pajak industri shipyard cukup besar. Bahkan sampai-sampai kedua negara itu bisa menggaji para pengangguran.

“Selama saya di Batam dan baca media lokal, kok tiap tahun selalu yang dimunculkan dan diagung-agungkan selalu soal devisit PAD. Kemana itu pajak shipyard, apa jangan-jangan pajak ini nggak digarap,” pungkasnya. (amok group)
Share this post :

Facebook Comments