Home » » Waspada, Kenaikan UMK 3 Juta di Jawa Timur Berdampak Pada Pesiun Dini Karyawan

Waspada, Kenaikan UMK 3 Juta di Jawa Timur Berdampak Pada Pesiun Dini Karyawan

Di Edit oleh admint dan BERITA BURUH | Rabu, 25 November 2015

Ilustrasi.(net).
JawaTimur,Buruhtoday.com - Penetapan upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang telah ditetapkan oleh Gubernur Jawa Timur dan diberlakukan sejak awal tahun 2016 mendatang, menjadi bola panas bagi pengusaha yang semakin kelimpungan dengan tingginya angka UMK tersebut. Tidak menutup kemungkinan  akan bayak karyawan mengalami pensiun dini.


Salah satu pengusaha sukses, Alim Markus mengaku bakal tetap menjalani penetapan UMK baru tersebut. Namun dirinya pun mengaku bahwa tidak menutup kemungkinan kelak perusahaanya juga bakal mempensiunkan dini karyawannya.


“Memang berat, ibaratnya Pergub 68 ini seperti pil pahit, tapi saya telan. Saya akan menjalankannya tahun depan,” ungkap Alim Markus yang juga Bos Maspion Group ketika ditemui di Surabaya, pada Selasa (24/11/2015) kemarin.


Alim yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) wilayah Jawa Timur pun mengatakan, untuk UMK Tahun 2015 saja yang sebesar Rp 2,7 juta sudah cukup memberatkan bagi para pengusaha. karena itulah ada sekitar 1.800 karyawan yang telah pensiun dini.


Sedangkan untuk UMK Tahun 2016 yang mencapai Rp 3.045.000 tentu menjadi sebuah kondisi sangat memberatkan, apalagi kenaikannya sekitar 12% dibanding tahun 2015. oleh karena hal itu, pihaknya pun bakal menawarkan untuk pensiun dini kepada para karyawannya.


“Jumlahnya pun masih sama seperti tahun (2015) ini, total ada sekitar 1.800 karyawan yang akan kita tawarkan untuk pensiun dini. Pensiun dini ini sendiri untuk efisiensi,” jelasnya,


Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pengupahan Apindo Jawa Timur, Ridwan mengatakan, bahwa UMK Tahun 2015 ini saja sebenarnya sudah memukul banyak pabrik besar yang ada di kawasan industri yang letaknya berada di daerah ring I (Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan serta Mojokerto) karena mereka memilih merelokasi pabrik mereka ke daerah-daerah lainnya seperti Nganjuk, Lamongan dan Ngawi.

Menurut Ridwan, ada banyak pekerja yang akhirnya di-PHK, karena perusahaan banyak yang tidak mampu untuk membayar upah buruh dengan besaran Rp 2,7 juta. 


“Tahun ini pasti banyak perusahaan yang bakal mem-PHK. Saya kira tidak ada 100 ribu pengurangan tenaga kerja. Itu pun dengan catatan jika masih menggunakan UMK lama Rp 2,7 juta,” jelas Ridwan.


Selain bakal mem-PHK pekerja, ada banyak perusahaan yang mulai berpikir untuk beralih dari awalnya padat karya berubah menjadi menggunakan mesin. 


“Ada banyak pengusaha yang mulai beralih dari padat karya, sekarang memakai robot,” terang Ridwan,


Ia pun juga mempaparkan bahwa, saat ini produktivitas tenaga kerja yang ada di Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan Vietnam.


“Ada sejumlah PMA yang mau masuk, tapi belakangan banyak yang akhirnya membatalkan, padahal mereka sudah ada izinnya. Bahkan, PMDN sendiri pun juga mengalihkan pabriknya ke Vietnam. Karena disana mereka jauh lebih produktiv dari kita” tandasnya. (Sumber kabardunia.com).
Share this post :

Facebook Comments