Home » » Pemkab Bandung Kesulitan Menangani Jatuhnya Harga Pasar Produksi Tektil

Pemkab Bandung Kesulitan Menangani Jatuhnya Harga Pasar Produksi Tektil

Di Edit oleh admint dan BERITA BURUH | Selasa, 09 Juni 2015

Soreang,Buruhtoday.com - Jatuhnya pasaran hasil Industri tektil di Majalaya membuat Pemerintah Kabupaten Bandung kesulitan untuk membenahi persoalan yang ada. Pasalnya banyak sarung-sarung hasil produksi industri menumpuk di gudang perusahaan tektil di Kecamatan Majalaya.
 
Bupati Bandung,Dadang Naser mengatakan bahwa saat ini hasil produksi industri tektil seperti sarung-sarung masih banyak menumpuk di sejumlah gudang milik perusahaan, sementara itu menyambut hari Ramadan sebentar lagi.

"Industri kecil dan menengah di Majalaya ini, masih menjadi masalah. Jadi sarung itu masih menumpuk di gudang. Padahal puasa bentar lagi," kata Dadang, Senin (8/6/2015).

Ia juga mengakui sudah banyak tenaga kerja yang dirumahkan atas kejadian ini. dan bahkan ada yang dikurangi masa kerjanya menjadi empat hari atau tiga hari dalam sepekan. Untuk itulah, hingga kini pihaknya masih mencari solusi terkait persoalan ini, agar perputaran ekonomi di industri tekstil di Majalaya bisa kembali berjalan.

Terlebih, pemerintah pusat pun sampai turun tangan untuk memberi solusi. Alhasil, berdasarkan keputusan dari pusat, masyarakat diharuskan untuk menggunakan produk tekstil dari Majalaya. 

"Solusi sampai ke tingkat pusat. Karena ternyata produk kita bersaing dengan barang dari luar negeri," ujarnya.

Persoalan yang dihadapi industri tekstil di Majalaya ini berdampak pada jumlah pengangguran di Kecamatan Majalaya. Dadang pun mengakui, memang masih banyak pengangguran di kawasan Majalaya itu. "Masih banyak memang, itulah yang susah," kata dia.

Menurut dia, hal tersebut terjadi karena banyak kaum urban yang datang ke Kabupaten Bandung untuk mencari kerja. "Dan ini enggak bisa dihindari," tutur dia.

Namun, tetap, berdasarkan aturan ketenagakerjaan, sebuah industri harus mengutamakan warga setempat sebagai tenaga kerjanya. "Harus utamakan putra daerah, meskipun tidak bisa dihindari ada urbanisasi dari daerah lain," ucap dia.

Kendati persoalan meredupnya industri tekstil di Majalaya masih belum berakhir, Dadang tetap mengklaim, pengangguran di kabupatennya menurun dari semula 11 persen pada tahun lalu menjadi 8 persen pada tahun ini. "Pengangguran itu kita sudah bisa menurunkan dari 11 ke 8 persen," tutur dia.

Tak hanya itu, soal kewirausahaan, Dadang pun merasa bangga karena pihaknya telah memperoleh penghargaan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO). Kabupaten Bandung mendapat penghargaan dari ILO karena menjadi daerah yang pertama kali memanfaatkan modul kewirausahaan yang diterbitkan ILO.

"Kita dapat penghargaan dari ILO dari PBB karena menggunakan sistem three in one. Ada pelatihan dan penempatan sebelum bekerja di dalam maupun di luar negeri. Dan ini memotong pengangguran," ujar dia. (sumber Republika.co.id).
Share this post :

Facebook Comments