Lowongan Kerja Masih Minim, Pengangguran Terus Meningkat Tinggi - BURUH TODAY


Post Top Ad

Your Ad Spot

Rabu, 08 Agustus 2018

Lowongan Kerja Masih Minim, Pengangguran Terus Meningkat Tinggi

foto : Ilustrasi/net
BANJARMASIN - Angka pencari kerja di Banjarmasin hampir menyentuh tiga ribu jiwa, dan korban PHK sudah tiga ratus orang. Pengangguran masih menjadi PR bagi pemerintah karena masih klasik, yang mana lowongan pekerjaan yang tersedia sampai separuh jumlah Diatas.
Pencari kerja di Banjarmasin didominasi oleh fresh graduate. Dari pemegang ijazah diploma hingga sarjana. Jumlahnya tak sedikit. Tahun 2018 tercatat ada tiga ribu lebih pencaker. Ditambah lima ribu dari tahun 2017.
Lantas, berapa yang sudah memasuki dunia kerja? Ambil patokan job fair saja. Tahun lalu, dibuka seribu lowongan pekerjaan. Namun, cuma setengah kuota yang terisi.
"Hanya 440 pencaker yang bisa disalurkan untuk memasuki dunia kerja," kata Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja Banjarmasin, Priyo Eko Wusono.
Kemarin (7/8) di Menara Pandang, Siring Pierre Tendean, job fair serupa kembali dibuka. Namanya Banjarmasin Career Expo 2018. Ada 35 perusahaan lokal dan nasional yang bergabung. Menyediakan sekitar 1.500 lowongan pekerjaan. Event ini dibuka sampai akhir Agustus mendatang.
Itu baru angka pencaker. Belum ditambah dengan angka PHK (Pemutusan Hak Kerja). Tahun lalu, dilaporkan 658 kasus pemecatan. 443 kasus dinyatakan selesai. Dalam artian sang mantan pekerja telah ikhlas. Memperoleh uang pesangon yang layak.
Lalu, ada 71 kasus yang dimediasi Disnaker karena negosiasi antara mantan pekerja dan perusahaan berakhir buntu. Ditambah tiga kasus yang terpaksa diteruskan ke pengadilan hubungan industrial.
Angka-angka ini bersifat tentatif. Mengingat perusahaan yang usianya baru seumur jagung dan terbilang kecil, jarang sekali mau melaporkan kasus PHK kepada pemko.
"Tahun 2018, sudah tercatat 308 kasus PHK. Dua kasus telah dibawa ke pengadilan. Angka-angka ini memang membuat sedih," imbuh Eko.
Dia sedikit bisa bernafas lega. Karena setelah Transmart dan Trans Mini Studio dibuka, setidaknya ada 250 pekerja dari angkatan muda yang terserap.
Pencaker diminta tak mudah berputus asa. Jika gagal pada job fair, masih ada peluang terbuka di program Wirausaha Baru yang dibuka pemko.
Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menyebutkan, dengan jumlah penduduk 700 ribu jiwa lebih, angka pengangguran memang hanya sekian persen. Tapi jangan coba-coba untuk dianggap remeh. "Cuma beberapa ribu. Sedikit saja. Tapi kalau yang sedikit ini bikin masalah, gawat juga," ujarnya.
Pengangguran juga menjadi pintu untuk masalah sosial lainnya. Dari kemiskinan hingga kriminalitas. "Mempelajari data orang miskin di Banjarmasin, sebagian menjadi miskin karena tak memiliki akses ke dunia kerja," tegasnya.
Ibnu yakin, angka pengangguran ini bukan semata milik warga Banjarmasin. Sebagai ibu kota provinsi, kota ini menarik pencaker dari daerah tetangga, bahkan dari Pulau Jawa.
"Apakah saya melarang? Karena masih satu republik, jawabnya tidak. Tapi tolong, warga pendatang yang kemari harus memiliki keterampilan kerja. Sekurang-kurangnya ulet," imbaunya.
Kampus-kampus besar juga ada di kota ini. Pemuda dan pemudi dari kabupaten dan kota tetangga yang kuliah di Banjarmasin, setelah lulus, sebagian saja yang pulang kampung. "Selebihnya bertahan di kota ini untuk mengadu nasib. Saya justru lebih khawatir dengan pengangguran terdidik ini," tukasnya.
Solusi yang diajukkan pemko, berupa program wirausaha baru. Tahun 2016, ada 625 calon wirausaha baru yang direkrut. Namun, hanya 125 wirausaha baru yang sanggup mandiri. Sisanya rontok satu demi satu.
Tahun berikutnya, giliran 747 calon wirausaha baru direkrut. Lagi-lagi hanya separo yang bisa bertahan. "Moga-moga tahun ini ada seribu yang bisa direkrut. Taruhlah ada 500 yang bisa bertahan," ungkapnya.
Apalagi Ibnu sudah terlanjur mematok target. Selama lima tahun kepemimpinannya bersama Hermansyah, bakal lahir 2.500 wirausaha baru. Melihat pencapaian tiga tahun terakhir, jelas masih banyak yang harus dikejar.
Lantas, apa kendala program wirausaha baru? Kembali pada Eko, dia menegaskan tak ada penjelasan tunggal. Ada banyak faktor. Misal, ada wirausaha yang sekadar coba-coba. "Kalau jadi syukur, tak jadi pun juga enggak masalah," ujarnya.
Adapula fenomena wirausaha musiman. Terutama yang bergerak di bisnis kuliner. "Pas bulan Ramadan, semangat untuk berbisnis. Setelah itu kendor lagi. Jadi masalah utamanya keuletan," pungkas Eko. 
(Sumber :  Procal.co)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot