Home » » Wahai Buruh, Untuk Apa Mogok Nasional?

Wahai Buruh, Untuk Apa Mogok Nasional?

Di Edit oleh admint dan BERITA BURUH | Minggu, 27 Oktober 2013

Citizen6, Jakarta, Buruhtoday : Penghujung tahun 2013 agaknya tidak hanya akan diramaikan oleh hiruk-pikuk persaingan politik menjelang pemilu 2014, tetapi juga akan diwarnai oleh maraknya aksi protes yang diorganisir oleh sejumlah serikat kerja menuntut kenaikan upah minimum tahun 2014 sebesar 50%. Jauh-jauh hari, para aktivis buruh yang tergabung dalam sejumlah serikat kerja telah menyatakan akan memobilisasi pemogokan nasional dan aksi protes menekan pemerintah dan pengusaha agar memenuhi tuntutan kenaikan upah minimum. Selain persoalan upah, status kontrak kerja, buruh outsourcing, jaminan sosial, serta penolakan Inpres No. 9 Tahun 2013 yang mengatur pedoman penetapan UMP tidak luput menjadi isu tuntutan aksi protes buruh.

Sinyalemen akan adanya eskalasi gerakan protes buruh ini setidaknya tercermin dari seruan pimpinan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengenai aksi mogok nasional selama 3 hari berturut-turut 28 hingga 31 Oktober 2013 guna menuntut kenaikan upah minimum tahun 2014 sebesar 50%. Bahkan, dalam propagandanya KSPI mengancam akan melakukan aksi protes nasional dengan mobilisasi 3 juta massa buruh dari berbagai sektor industri baik pabrik, bandara, pelabuhan maupun sektor lainnya. Pernyataan serupa juga dikeluarkan oleh berbagai serikat buruh lainnya baik di tingkat pusat maupun daerah seperti FSPMI, SBSI, SPRI, FBLP, Sekber Buruh dan lainnya.

Maraknya aksi buruh ini bagian dari implikasi kebebasan yang muncul bersamaan dengan demokratisasi di Indonesia. Aksi protes sebagai ekspresi kebebasan berpendapat dan berserikat telah dijamin sebagai hak konstitusional warga negara dalam memperjuangkan kepentingannya. Namun demikian, eskalasi yang semakin masif tentu menimbulkan pertanyaan, soal kemungkinan ada kekuatan di luar kepentingan kaum buruh itu sendiri yang memanfaatkan situasi dan mencoba mengambil keuntungan.

Kekhawatiran adanya kekuatan eksternal yang menjadi free rider dalam aksi protes buruh ini bukan tanpa alasan. Bisa saja besarnya potensi massa kaum buruh yang mencapai puluhan juta jiwa akan menjadi objek yang menarik bagi kepentingan para kontestan pemilu 2014, sehingga isu pengupahan dapat menjadi ajang meraih simpati dan pencitraan di kalangan buruh. Begitupula dengan kemungkinan persaingan industri maupun pangsa pasar kerja (CAFTA, ASEAN Community-2015, dll) yang semakin terintegrasi secara global dapat menjadi faktor yang ikut mendorong kisruh persoalan perburuhan di Indonesia. Fenomena itu terlihat dari munculnya relokasi industri yang pasti berimplikasi pada pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun turunnya penyerapan tenaga kerja.

(Sumber Liputan6)
Share this post :

Facebook Comments