BATAM – Hasil investigasi yang dilakukan Tim Sentralnews.com (group) menyoroti meluasnya aktivitas pengiriman barang melalui jalur pelabuhan rakyat atau yang lebih dikenal dengan istilah pelabuhan tikus di kawasan Barelang. Selain di Pelabuhan Sembulang, aktivitas serupa juga terpantau di Pelabuhan Tikus yang berada di Kampung Air Naga, Dapur Tiga.
Namun, saat awak media mendatangi pelabuhan tikus di Kampung Air Naga tersebut, aktivitas bongkar muat sedang tidak terlihat. Informasi yang dihimpun dari warga setempat menyebutkan bahwa pelabuhan itu kerap digunakan untuk kegiatan pengiriman barang.
"Benar, Bang. Sering ada pengiriman barang, tetapi waktunya tidak menentu. Kalau isinya, kami tidak tahu. Yang jelas katanya sih barang sembako," ujar seorang warga yang tengah melintas.
Berdasarkan pantauan Tim Sentralnews.com di kawasan Bundaran Simpang Barelang Tembesi, terlihat sejumlah truk lori beroda 6 dan roda 10 yang sarat muatan. Dengan kondisi tertutup terpal atau box, kendaraan-kendaraan tersebut tampak terus menerus mengirimkan barang dari Batam menuju pelabuhan rakyat (pelabuhan tikus) di wilayah Barelang.
Informasi ini semakin dikuatkan dengan adanya pemberitaan dari salah satu media online yang turut menyoroti langsung aktivitas pengiriman barang ilegal tersebut.
Dikutip radarberita.id, Senin (11/05) malam, suasana di kawasan Barelang tampak lebih sibuk dari biasanya. Dua unit truk besar yang sarat muatan tertutup terpal berwarna gelap terpantau melaju kencang dari arah Batam, melintasi Jembatan Lima, dan masuk menyusuri jalan menuju Kampung Air Naga, tepatnya di kawasan Dapur Tiga.
Kedatangan dua kendaraan berat itu langsung disambut oleh sejumlah buruh yang sudah siaga di sebuah dermaga kayu kecil—yang akrab disebut pelabuhan tikus. Dalam sekejap, proses bongkar muat pun berlangsung cepat di bawah minimnya penerangan, membuat aktivitas ini nyaris luput dari pantauan mata awam.
Saat awak media mendekati lokasi, seorang pria berambut gondrong yang mengaku bernama Aslan tampil sebagai juru kunci atau koordinator bongkar muat. Dengan santai, Aslan berusaha meyakinkan bahwa kegiatan tersebut hanyalah rutinitas warga lokal untuk mencari nafkah.
"Kami hanya buruh bongkar, Pak. Pemilik barang namanya Andi. Semua pekerja di sini asli warga setempat," ujar Aslan malam itu.
Ia bahkan mengklaim bahwa pengiriman ini baru berlangsung dua kali (dua trip) dan sempat berhenti beberapa waktu sebelumnya. Namun, seiring berjalannya waktu, pernyataan Aslan mulai terlihat janggal dan berbelit-belit.
Ketika para wartawan meminta Aslan untuk menghubungi pemilik barang melalui sambungan telepon, sebuah fakta penting justru terungkap. Dari percakapan dan informasi yang berkembang, diketahui bahwa pengendali utama kegiatan logistik gelap tersebut bukanlah warga sipil biasa, melainkan seorang oknum aparat.
Fakta ini langsung membantah klaim awal Aslan yang menyebut semua aktivitas dikelola oleh warga. Lebih mencengangkan lagi, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, jumlah kendaraan yang melintas dan menurunkan barang malam itu bukan hanya dua unit, melainkan jauh lebih banyak dari yang diakui semula.
Barelang: Jalur Emas Penyelundupan Jastip
Kawasan Barelang kini bukan lagi sekadar jalur alternatif. Informasi yang dihimpun media menyebutkan bahwa wilayah ini telah menjelma menjadi jalur utama bagi para pelaku penyelundupan, khususnya untuk barang-barang yang diduga kuat merupakan jasa titipan (jastip) tanpa dokumen resmi.
Terhitung, ada tiga pelabuhan tikus di kawasan tersebut yang kerap dijadikan tempat persembunyian dan operasi serupa. Minimnya penerangan dan akses jalan yang terpencil menjadi faktor pendukung utama bagi kelancaran aksi ini.
Yang paling menyita perhatian adalah absennya aparat penegak hukum di lapangan. Hingga aktivitas bongkar muat usai, tidak ada satu pun petugas Bea dan Cukai yang terlihat melakukan patroli, baik di jalur darat maupun di perairan sekitar.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tajam. Bea Cukai Batam dinilai kecolongan dan kurang "melek" terhadap dinamika ilegal yang sudah semakin terstruktur di wilayah hukum mereka. Padahal, aktivitas semacam ini jelas merugikan keuangan negara karena bea masuk dan pajak impor yang seharusnya disetor ke kas negara, menguap begitu saja.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Bea Cukai maupun instansi terkait lainnya belum memberikan tanggapan resmi. Masyarakat berharap aparat segera bergerak cepat mengungkap dalang di balik semuanya, dan menutup rapat-rapat pelabuhan tikus yang menjadi biang kerugian negara ini.
Editor red/Don.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar