Home » » PT Ris : Tim Kita Tidak Pernah Menganiaya Warga di Lokasi

PT Ris : Tim Kita Tidak Pernah Menganiaya Warga di Lokasi

Di Edit oleh admint dan BERITA BURUH | Selasa, 12 April 2016

Batam,Buruhtoday.com - Edi Putra selaku kordinator lapangan PT Raja Indosin Simandolak (RIS) menegaskan tidak pernah melakukan penganiayaan pada salah satu warga di Lorong Damai, Kampung Pasir Putih,Kelurahan Kibing,Batu Aji.

"Kita tidak pernah melakukan kekerasan pada warga. Malah  warga yang mengancam 2 orang dari tim kita, katanya akan dibunuh," ucap Edi kepada AMOK Group,Selasa(12/4/2016) siang tadi, dilokasi lahan penggusuran.

Menurut Edi, dua orang anggota tim tersebut sedang melakukan negoisasi persuasif kerumah-rumah warga. Namun, salah satu warga ada yang menolak dan bahkan mengancam mereka. Karena merasa ketakutan kedua anggota tim kita langsung melapor keperusahaan.

"Saya menyaksikan langsung mas, tidak ada warga yang diseret-seret dari rumahnya. Hanya teman-teman dari tim kita ingin mengklarifikasi perkataan warga tersebut, dan dia menolak untuk ikut kepolsek," tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Salah satu warga Lorong Damai, Kampung Pasir Putih, Kelurahan Kibing, Kecamatan Batuaji, bernama Herbin Manik mengaku menjadi korban penganiayaan dari beberapa oknum preman suruhan PT RIS beberapa hari lalu.

“Hari Kamis kemarin(7/4) sekitar pukul 16.30 WIB sore, saya meminta kepada SB (korlap PT RIS) untuk tidak meneruskan penimbunan karena sangat mengganggu warga. Setelah itu dia pergi dan kembali lagi dengan membawa tiga orang temannya,” ujarnya kepada AMOK Group, Sabtu (9/4/2016) sore.

Menurut Manik, SB dan tiga temannya tersebut kemudian mendatanganinya saat duduk di teras sebuah rumah yang ada di lokasi penimbunan.

“Tanpa basa-basi, mereka langsung menghampiri dan menarik saya, dan satu orang menendang saya dari belakang,” ujarnya.

Manik mengaku sempat berusaha melakukan perlawanan dan mencoba melepaskan diri. “Saya tetap melawan supaya dilepas, mau gimana lagi, saya sendiri, mereka empat orang,” bebernya.

Dia juga mengaku siseret ke arah bukit hingga sandalnya terlepas dan tangannya juga memerah.

“Mereka menyeret-nyeret saya ke atas (sambil menunjuk ke arah bukit yang ada di sebelah timbunan) sampai sandal saya terlepas. Tangan saya juga sampai merah, sudah seperti binatang saya dibuat mereka,” ucapnya.

Manik akhirnya dilepaskan setelah ibu-ibu yang ada lokasi berdatangan dan meneriaki para suruhan perusahaan tersebut.
   
red/don/AMOK
Share this post :

Facebook Comments