Home » » Keresahan Masyarakat di Picu Seringnya Terjadi PHK & Kenaikan Harga Sembako

Keresahan Masyarakat di Picu Seringnya Terjadi PHK & Kenaikan Harga Sembako

Di Edit oleh admint dan BERITA BURUH | Selasa, 30 Juni 2015

Jakarta,Buruhtoday.com - Berdasarkan hasil jajak pendapat yang dilakukan di 10 kota besar di Indonesia, potret keprihatinan sebagian besar masyarakat dapat jelas terlihat. Sebanyak 72 persen responden khawatir dengan kenaikan harga sembako.

Selain sembako, sebanyak 52 persen responden juga khawatir anggota keluarganya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau bahkan dirinya sendiri ikut terkena PHK. Kekhawatiran mereka sangat beralasan, mengingat sejak awal tahun, berita PHK sudah terdengar.

Seperti ribuan karyawan pabrik industri garmen dan tekstil PT Jabatex dirumahkan, juga dua ratusan buruh PT The Master Steel terkena PHK. Maret lalu, dua ribu lebih buruh di Bogor juga kehilangan pekerjaan karena perusahaannya tidak sanggup membayar upah.

Selain itu, pada Mei lalu, PT Jabagarmindo di Pati, Jawa Tengah telah menyerah dan menyatakan bangkrut. Puluhan ribu karyawan pabrik sepatu juga kehilangan pijakan karena sepatu-sepatu yang mereka buat tidak terbeli.

Seperti hasil jajak pendapat atau polling yang dilakukan MNC Research, Selasa (30/6/2015), naiknya harga sembako layak menjadi kekhawatiran nomor wahid, mengingat makanan dan minuman dinyatakan responden sebagai pengambil porsi terbesar dalam anggaran mereka di bulan Ramadan.

Budaya konsumsi masyarakat saat bulan Ramadan yang merupakan potensi pasar dari mayoritas kelas menengah muslim Indonesia, terlihat juga dari hasil survei.

Ramadan tahun ini dirayakan dalam kondisi ekonomi yang melemah. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pertumbuhan konsumsi masyarakat yang menjadi basis utama ekonomi juga menurun dan pertumbuhan investasi juga menurun, bahkan belanja pemerintah lebih turun lagi.

Pertumbuhan kredit perbankan juga menurun menjadi sekira 10 persen. Pihak bank sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit karena khawatir tidak terbayarkan. Namun, permintaan kredit pun tidak lagi ramai karena melemahnya perekonomian. Pada Ramadan ini, diperkirakan inflasi terdorong bergerak naik lebih tinggi dari 7,1 persen.( sumber Medeka.com)
Share this post :

Facebook Comments